Siti Fauzanah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

LUCKY

"Anggap saja kamu beruntung, " ucap pria gemuk. Ia mengunyah permen karet sembari memasukkan tangannya ke saku celana kemudian berdiri di depanku dengan sok cool.

Dua orang pria lainnya memberiku tatapan tidak bersahabat. Mereka bersandar dan menapakkan satu kaki di dinding gedung sekolah. Tempat ini sepi karena jarang dilewati siswa lain.

Mereka membuatku sedikit tertunduk, entah karena malu atau takut. Aku tidak pernah dihadang secara buas seperti ini sebelumnya. Mereka memojokkanku.

Beruntung? Maksudnya?
Pria gemuk lalu menyodorkan kepalan tangannya padaku, sontak membuat jantungku sedikit melompat, kemudian ia membuka kepalanya.

"Permen karet? "

Astaga, entah mengapa aku merasa lega, badanku yang semula terasa berat, sekarang seperti daun yang dihembus angin. Ternyata aku dihadang oleh sekelompok pria dengan jinak. Haha!

Pria gemuk itu lalu menaikkan alisnya, "ga suka? "

"Suka, " aku mengambil permen itu dari tangannya. "Makasih, " ucapku.

Dia tersenyum sangat kecil. Sekecil apapun ia tersenyum, akan menciptakan mata yang sipit diwajah tembem miliknya. Manis sekali. Tanpa disadari aku telah menatapnya selama beberapa detik. "Apa liat-liat?! "

Aku segera membuka bungkus permen. "Ge er amat sih! " aku memasukkan permen karet ke mulutku dengan kasar lalu mengunyah dengan ekspresi meledek.

"Woi! Ngapain kalian! " aku terkejut. Mataku langsung mencari sumber suara. Suara yang sangat familiar bagiku. Sudah kuduga, itu Jev.

Dua pria yang bersandar di dinding memperbaiki posisi berdirinya. Pria gemuk dengan nametag Abdi Damian memutar kepalanya dengan cepat lalu tersenyum. Lagi-lagi aku terpesona dengan senyumnya.

"Eh, engga bro, ini permen karet, " Abdi menunjukku. Jev mengerutkan kening.

"Enak saja, aku manusia! " pekikku mengompori.

"Maksudnya yang lagi kamu makan! " timpal Abdi tidak terima. Kelihatan sekali wajahnya sedang cemas menunggu diusili oleh Jev.

"Maksudnya? " tanya Jev. Ternyata Jev masih belum paham.

"Aku cuma ngasih dia permen karet, " ucap Abdi lagi. Jev membulatkan mulut dan mengangguk.

"Terus? Ngasihnya kenapa harus di sini? " tanya Jev membuat Abdi kebingungan. Memang benar, tempat seperti ini patut dipertanyakan.

"Supaya ga ada yang tau. Tar pada minta semua, " balas salah satu pria yang bersandar di dinding tadi. Mereka semua teman dekat Jev. Abdi, Gean, Dandi. Abdi yang paling berisi diantara mereka semua.

"Geby, bener ga? " tanya Jev penasaran, seketika kudapati jantungku berpacu pada saat ia memanggil namaku.

"Bener, "
-
Kali ini aku pulang bersama Jev. Ia mempersilakanku menaiki motor miliknya. Aroma parfumnya menghampiri rongga hidungku. Aroma yang sangat khas dan menurutku hanya cocok untuknya.

Sial, jantungku malah mendobrak tulang rusukku. Pipiku merona. Padahal aku sudah berusaha untuk santai. Kuharap Jev juga sama tegangnya denganku. Motor Jev menyibak setiap kerumunan dengan laju sedang. Aku mengalihkan pandangan ke gedung kota di sepanjang jalan. Sungguh perjalanan pulang yang canggung tanpa obrolan.

Dan akhirnya sampai di rumahku.

Sebelum turun dari motor, kusempatkan menelan ludah terlebih dahulu. Kemudian aku turun dengan hati-hati lalu menunjukkan senyum pada Jev. Aku berusaha menangkap tatapan Jev. Tapi bodohnya aku tidak sanggup ditatap balik oleh Jev. Jev malah memberikan tatapan mautnya, bukanlah makhluk hidup jika tidak salah tingkah.

Akan tetapi, aku menyembunyikan saltingku. Aku harus menjaga image-ku. Image adalah hal yang paling penting pada saat pdkt. Jev menyunggingkan senyum. Astaga anak ini!

"Um.. Makasih, " hatiku tidak karuan. Aku mengutuk mulutku yang beraninya bicara tanpa sepengetahuan hatiku. Tapi itu tidak masalah, aku telah menunjukkan sisi beraniku kepada Jev. Dia mengangguk sekali saja, kemudian tersenyum tipis.

"Tar malem kosong kan? "
Sudahlah Jev! Lama-lama saltingku akan ketahuan juga.

"Eh, maksudnya? "

"Ayo makan malam!"

Gila! Aku mengusap telingaku yang dingin. Aku menggigit bibir bawahku yang tidak bisa berhenti tersenyum. Aku menyetujui ajakan Jev. Ia pamit pulang dan memalingkan wajahnya dan kembali menyalakan motor.

Aku tidak langsung masuk ke rumah dulu karena inilah kesempatanku menatap dirinya lebih lama, meskipun yang kutatap hanya punggungnya saja.

...

Aku menghempaskan diri ke kasur. Sebuah ritual rutin sepulang sekolah, akanku biarkan diriku terlentang dikasur selama beberapa detik, terkadang ribuan detik. Aku beranggapan ritual ini akan membantu otakku mengalirkan pikiran-pikiran berat ke kasur, dan kemudian menghilang dengan sendirinya. Sederhananya adalah imajinasi.


Bicara soal sekolah. Jujur, aku tidak terlalu suka sekolah. Sebagian teman-temanku sibuk untuk tidak absen kehadiran, lain halnya denganku yang justru ingin meliburkan diri.

Sekolah identik dengan membaca, perpustakaan, dan alat tulis. Aku akan membaca jika mood ku baik. Bekalku kebanyakan dari penjelasan guru. Karena otakku lebih cepat merekam dengan baik dibandingkan membaca. Membaca akan membuat diriku bosan.

Terus terang saja, aku tidak menjadikan belajar dengan kata lain mengerjakan tugas sebagai hobi. Aku cenderung lebih suka menumpuknya kemudian mengerjakannya minimal lima menit sebelum dikumpul. Anehnya, aku masih mampu masuk rangking sepuluh besar di kelas.

Malangnya, guruku memberi kami tugas akhir yang cukup rumit. Itu artinya ujian akan segera dilaksanakan. Sebuah makalah. Semalas-malasnya, aku malah senang menerima tugas ini. Disebabkan pembentukan kelompok yang kupikir guruku berpihak padaku. Aku masuk kelompok yang dihuni oleh sebagian siswa rajin, Rara dan Ica serta satu orang laki-laki, Alvin.

Aku mendengar pintu rumah terbuka. Firasatku tertuju pada Yeol. Seketika bumi terasa berhenti berputar. Aku menepuk jidatku. Yeol sudah berpesan menjemputku hari ini ke sekolah.

Dengan tergesa-gesa, aku membuka pintu kamar. Kudapati sosok Yeol mau masuk kamarnya bersamaan dengan berpaling ke arahku. Ia sedikit kaget dan menunjukkan ekspresi yang lucu.

"Kak Yeol? " panggilku nyengir.

"Lah? Sudah pulang? Ko gak ngasih tau ke kafe? " tanyanya sambil mengambil jaket digantungkan kamar.

"Hehe, buru-buru, kebelet pipis soalnya, " ucapku berbohong. Yeol mengerutkan kening. Ia memang sangat susah ditipu. Sangat gampang mencari celah baginya mengungkit kebohongan anak ingusan sepertiku.

"Padahal mau jemput. Ko cepet sampe rumah? " tanyanya.

"Guru mengadakan rapat, jadi pulang dipercepat, " ucapku yang berusaha meyakinkan hati berbulu Yeol.

"Tumben," balasnya singkat.

"Ko pake jaket? Mau ke mana? " tanyaku memutar topik.

"Dingin, " memang, cuaca sekarang lagi dingin. Yeol mendorong keningku dengan satu jari telunjuknya. Lalu melewati ku yang hanya setinggi bahunya hingga akhirnya berlalu.

Beberapa detik kemudian, terlintas dibenakku persoalan Jev. Sebagai makhluk hidup, aku memiliki emosi dan rasa penasaran.

Dan akhirnya kuputuskan untuk membuntuti dengan sepeda pemberian bibiku, kakak dari ibuku. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mengejarnya karena Yeol adalah manusia yang lamban. Ia trauma dengan kecelakaan yang menimpanya dahulu.

Aku berusaha menyetarakan roda depan sepedaku dan roda depan motor Yeol.

"Kak Yeol! " matanya melebar. Dia kaget lalu segera menepi.

"Kamu itu kayak hantu tau ga. Kenapa mau ikut?" ujarnya heran.

"Engga, " ucapku berusaha mengendalikan napas.

"Terus? "

"Laper, hehe, " ku urungkan niatku untuk meminta penjelasan mengenai Jev padanya. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu. Bisa-bisa dimarahi aku.

Yeol mengeluarkan dompetnya dan menyeret selembar uang lalu memberikannya kepadaku.

"Nih! "

"Gosh! You're so handsome, "

Yeol terlihat kesal. Sebuah tarikan bibir yang menciptakan lesung pipi diwajahnya, membuatnya semakin tampan.

Terkadang, aku masih tidak percaya bahwa Yeol adalah kakak kandungku sendiri. Banyak pelanggan kafe yang menaruh hati kepada nya, tapi Yeol menolak. Begitu curhatan Yeol beberapa hari lalu kepadaku.

Ia mengeluarkan selembar uang lagi.
"Jangan beli yang pedes-pedes, jangan beli es, jangan beli michin! "

Aku mengiyakan. Yeol menggas motornya. Kuputar sepedaku ke arah yang berlawanan. Aku mengayuh lagi.

Lalu sampailah di tujuanku. Kuparkir sepeda dengan tertib di depan sebuah toko.
MIE NERAKA

...

Sekarang aku sibuk memilih baju yang ingin kupakai untuk makan malam bersama Jev. Aku bingung mau pakai baju yang mana. Inilah salah satu alasan mengapa aku jarang ke tempat umum. Aku selalu beranggapan, kalau baju yang aku pakai tidak pernah ada yang cocok untukku.


Aku bukanlah seorang yang percaya diri. Di dalam diriku, pasti terdapat suatu titik, dimana itu adalah kepercayaan diri. Aku selalu ingin memunculkannya. Tapi aku tidak tau caranya bagaimana.

Ketika aku menemukan baju yang ku anggap pantas, aku segera memakainya. Penampilan yang sedikit acak-acakan. Aku hanya memakai bedak bayi dan sedikit pelembab. Barangkali Jev suka natural.

Berulang kali diriku memandangi cermin, memastikan semuanya baik-baik saja. Tidak buruk, ucapku dalam hati. Aku melatih senyumku di depan cermin sembari menunggu kedatangan Jev. Tidak lupa setelahnya aku memakai parfum.

-

Aku mendengar klakson motor yang tentu saja sudah sering kudengar. Dan untuk terakhir kalinya aku memandangi diriku lagi di cermin. Aku segera keluar, kukunci pintu, lalu berbalik ke arahnya dengan sok anggun. Dia menunggu di atas motor dengan tetap menyalakan motornya.

Dengan gayaku yang sok anggun, aku menebar pesona padanya. Bisa kulihat dibalik helmnya, ia tersenyum simpul.

"Perfect, " ucapnya.

Saat itu juga pipiku terasa mengembang. Aku duduk di belakangnya dan menyuruhnya agar segera berangkat.

Aroma parfum Jev mengalahkan aroma parfum milikku. Padahal aku memakai parfum dengan sangat boros malam ini.

Setelah dipikir-pikir, aku tidak bisa berhenti tersenyum saat bersamanya. Aku berusaha memutar pikiranku dengan memperhatikan papan iklan dan lampu jalan agar tidak tersenyum.

Singkat saja, aku seperti orang yang tidak waras. Sudah beberapa kali, bahkan puluhan kali aku membayangkan bahwa yang sedang memboncengku adalah Yeol, tapi itu tidak berhasil. Sehingga senyum diwajahku tidak pupus dan aku berusaha tegang melawan senyumku ini.

"Geby? "

"Ya? "

"Sakit, " ucapnya meringis

"Hah? "

"Pinggangku kamu remas, " aku tertegun. Tanpa basa-basi aku langsung melepaskan remasanku di pinggang Jev yang tanpa kusadari. Ku dengar dia tertawa. Satu detik wajahku memanas menahan malu.

Bisa ditebak, kencan pertamaku telah gagal hanya karena menahan senyum. Aku mengumpat tidak karuan. Sangat memalukan.

Aku tertawa kecil.

Sekeren-kerennya penampilan, akan terlihat seperti badut jika tidak menjaga image. Sudah kubilang, image adalah hal terpenting. Tapi mengapa diriku tidak bisa menjaganya? Padahal itu adalah hal yang mudah.

Jantungku berdegup kencang. Dan karena tingkahku yang memalukan barusan membuat senyumku memudar. Berganti dengan angan-angan yang risih dan berantakan.

Aku menggigit bibir bawahku dan berusaha melupakan semua yang terjadi. But, damn it. Aku semakin mengingatnya.

Agar kencan kami tidak kaku, Jev melakukan pemanasan dengan mengajakku mengobrol dan bercanda ringan di atas motor. Sesekali aku menanggapi lalu kemudian kami tertawa. Karena belum terbiasa, helmku dan helm Jev bertabrakan di saat kami berbicara.

Aku mendongak dan melihat bintang berkelap-kelip. Melihat keadaan kota yang sangat ramai, terbesit hal menarik pada malam ini. Tidak gerimis. Padahal dihari sebelumnya selalu diguyur hujan.

"Kalo malam ini hujan, kamu bakal aku jemput sama mobil, karena aku ga mau kehilangan momen sama kamu, Geby. "

-
-
Jev merapatkan motornya di depan kafe dengan corak klasik. Jev mendahuluiku memasukinya setelah kami turun dari motor. Ia memegang pergelangan tanganku. Astaga jantungku.

Aku berupaya dengan halus melepaskan pegangan Jev, takut salah tingkah lagi. Tapi Jev malah mempererat pegangannya. Jev menarik tanganku sampai ia mendapat posisi meja makan yang ia inginkan.

Jev menemukan tempat di dekat jendela di lantai dua, bisa dilihat pemandangan kota dari atas sini walau tidak mencakup semuanya. Aku dan Jev duduk berhadapan. Justru hal ini yang kukhawatirkan

Jev berdehem, "kamu mau makan apa? "

"Terserah, " ucapku. Tiba-tiba mata grey dengan bayang-bayang hitam milik Jev menyorot tuntas mata hitam milikku. Kemudian ia tersenyum tipis.

"Cewek memang suka begitu," ujarnya sambil membaca buku menu. Bersamaan dengan itu, aku terpana, tidak mengerti dengan ucapan Jev.

Selang beberapa menit makanan yang dipesan Jev datang. Aku menyamakan menuku dengan Jev. Lalu melahap makanan dengan se feminim mungkin karena aku sangat gugup.

Aku memanfaatkan peluangku melirik Jev dikala ia lengah. Aku memperhatikan caranya makan, menyuap makanan, mengunyah dan berpaling ke berbagai arah. Terkadang bibirku tersenyum kecil. Dia benar-benar sempurna.

Jev menyelesaikan melahap porsinya dengan meninggalkan banyak sisa lebih dari tiga suap. Kemudian menopang wajahnya dengan tangan kiri.

Aku mengerutkan kening. Tidak mungkin ia tidak menyukai makanan seenak ini pikirku disusul dengan Jev menaikkan sebelah alisnya.

"Kamu ga suka? " tanyaku heran. Dia mengangkat bahunya lalu menggelengkan kepala.

"Aku sudah kenyang, " ucapnya sembari mengelap bibirnya dengan tisu.

"Berarti kamu sudah makan sebelum menjemputku? " tanyaku sedikit memberanikan diri bersamaan dengan gelengan kepalanya dan masih dengan posisi yang sama.

"Kamu bilang ga bisa lama-lama keluar sama aku. Jadi aku ga mau kehabisan waktu ngamatin wajah kamu. "

Deg!

...

Belum satu minggu Jev berusaha memasuki labirin hatiku. Dan ia bisa menyelesaikan permainan dengan sangat gampang. Tentu saja, karena ia bermain dengan curang. Bukannya memasuki lorong-lorong labirin sesuai peraturan permainan. Ia justru memanjat dinding tebal dan berlari membawa kemenangan.

Jev, kamu terlalu egois.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Makasih kaakkk

02 Apr
Balas

Waaah, aku suka cerpennya! Semangat terus ya, Kak ^^

02 Apr
Balas

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali