Siti Fauzanah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Dianthus caryophyllus

Feb, 2017..

Seorang laki-laki mendengus kesal semenjak ayahnya penginjak pedal gas mobil lebih dalam lagi.

"ulineun seodulleoyahanda, " (kita harus cepat) ucap pria tua yang tetap berkonsentrasi mengemudi.

Tidak ada yang lebih ia kesalkan selain ayahnya yang selalu menuruti kemauan ibunya.

"pibu gwanliga maeu jung-yohabnikka?"
(Apakah perawatan kulit sangat penting?) gerutunya.

Dan lelaki yang duduk di samping pria tua itu hanya ditanggapi dengan segelengan kepala.

Lelaki itu memejamkan mata sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hatinya mulai panas. Moodnya benar-benar hancur hari ini.

Tidak lama ponsel ayahnya berdering lagi.

Lelaki itu terus saja memperhatikan ayahnya menerima panggilan lagi dari ibu lelaki muda tersebut.

-Seharusnya ia menutup teleponnya, tidakkah ia sadar bahwa ia sedang mengemudi? Batinnya.

Pria tua itu seperti diberi ramuan dan dihipnotis. Benar-benar keterlaluan.

Lelaki muda itu mendengar beberapa bentakkan dan berbagai cerocos dari seberang telepon ayahnya. Telinganya sangat tidak nyaman. Tangannya sudah gatal ingin menyentak ponsel yang dijepit dengan bahu itu dari telinga ayahnya. Tapi tidak jadi.

Percuma.

Bagaimana mungkin ayahnya begitu lemah? Ia bahkan mengutuk-ngutuk wanita yang menelepon ayahnya. Bukankah seharusnya istri yang patuh kepada suami?

Ia sangat frustasi. Ia sangat kecewa karena telah dilahirkan oleh seorang wanita yang salah.

"...5 bun hue dol-aol ge, " (saya akan kembali dalam 5 menit) ucap pria tua itu berjanji dusambut sedikit kekehan palsu demi meredakan amarah istrinya di seberang sana. Pria tua itu menginjak lebih dalam pedal gas mobil. Ia segera menutup ponselnya kemudian menghela napas.

Lelaki yang berada di sampingnya menatap pria tua itu di ujung mata.

Dan untuk kesekian kalinya, ponsel pria tua itu kembali berdering, mendapat panggilan dari orang yang sama.

Astaga tidak bisakah ia sedikit bersabar? Amuk lelaki itu dalam hati.

Pria tua yang mengetahui anak muda yang di sampingnya sudah muak, ia bimbang akan mengambil lagi ponselnya berniat menjawab panggilan itu. Karena tidak fokus, mobil yang dibawanya oleng sehingga membuat keduanya panik.

Lelaki yang duduk di sampingnya dengan spontan merebut setir agar kembali normal. Pikirannya sangat kacau tak tentu arah. Mendadak mobil mereka meleset habis, hingga membuat mereka tertarik ke belakang.

Ponsel masih tetap berbunyi

Lelaki itu berusaha sefokus yang ia bisa menyeimbangi mobil itu kembali. Ia dengan jantung berdebar meneriaki ayahnya yang masih menginjak pedal gas mobil.

Keringat dingin mulai keluar.

Ayahnya yang sudah kehilangan akal menjadi sangat tegang hingga ia menangis nyaris pingsan, tetap menormalkan kembali laju mobil hingga akhirnya mereka bisa menghentikan mobil dengan cara yang berbeda.

Dentuman yang sangat keras disusul suara ledakan yang sangat dahsyat menyebabkan dua orang laki-laki yang berada didalam mobil berbenturan luar biasa dengan benda di sekitar mereka.

Hingga beberapa detik lamanya. Rasa sakit yang sesakit-sakitnya melanda setelah kejadian bentur berbentur itu. Tungkainya terasa akan putus dan kepala berdenyut-denyut.

Bermodalkan tenaga yang sepersekian persen, lelaki itu masih sempat memandangi wajah ayahnya meskipun remang-remang.

Dan tanpa ia sadari, janji ayahnya kepada ibunya telah terpenuhi.

Bahwa ayahnya akan kembali dalam kurun waktu 5 menit.

...

...

Dengan gesit, aku berlari sambil bersenandung menuju ruang ganti. Sebenarnya, aku tidak terlalu menyukai olahraga.

Namun, perkara ini jauh lebih baik dibandingkan duduk bengong di kelas dengan pikiran mengambang. Kesempatan ini kumanfaatkan untuk bermain, jajan dan aku merasa sedikit lega karena di kelas terasa pengap. Bahkan aku juga berpartisipasi pada saat pengambilan nilai praktek.

Berbeda dengan teman sekelasku yang cewek. Kebanyakan dari mereka yang modus dan tidak jarang mengganggu PBM kelas lain.

Dan jelas yang mengalami incaran paling serius adalah kelas Jev. Kelas kami sejajar, hanya dibatasi dua kelas lainnya.

Ku akui, kelas mereka unggul dengan tingkat ketampanan dan kecantikan paling tinggi. Beberapa orang berdarah campuran di sana dengan kata lain blasteran, bahkan sebagian dari mereka memiliki darah murni keturunan barat, China dan Brazil.

Dari beberapa orang itu yang paling banyak peminatnya adalah seorang laki-laki tinggi berkulit putih dengan rambut coklat keemasan, Billy.

Dengan mata biru safir miliknya, membuat setiap orang yang ia temui mabuk tanpa harus minum bir atapun wine.

Sangat menggoda, tapi sayang aku tidak tertarik.
.
.

Praktek hari ini kusudahi dengan nilai yang cukup bagus, sedikit lebih tinggi dari beberapa temanku. Kesudahan ini menyisakan jam pelajaran yang akan berganti duapuluh menit lagi.

Diwaktu yang sempit inilah teman-temanku mulai beraksi. Tidak cowok, tidak cewek. Sama saja.

Aku memilih duduk di rumput taman di bawah pohon ketapang kencana sambil meneguk air putih.

Bisa dilihat dari sini, satu rombongan besar berjalan riang menuju kelas Jev.

Bercanda dan sesekali melirik orang yang ditaksir di dalam kelas adalah cara jitu mereka mendapat perhatian. Alhasil, pintu kelas yang dipenuhi malaikat itu di tutup.

Sangat jelas mereka kesal. Seketika teras dari kelas itu lengang. Tetapi separuh dari mereka yang tidak putus asa beralih lewat jendela.

Meskipun sejatinya efek yang ditimbulkan tidak sememuaskan yang mereka lakukan di pintu, tapi setidaknya mereka bisa memandang lewat jendela.

Parah.

Padahal jauh dari lubuk hatiku juga ingin cuci mata melihat seseorang. Jev.
Akan tetapi, ini bukanlah gensi hanya saja terlihat sangat memalukan.

Selepas itu, aku menyipitkan mata dan sibuk mengawasi vampir berwujud manusia. Seseorang yang pernah menabrakku. Ia mengikat rambutnya yang mendukung penampilannya agar terlihat seperti manusia biasa.

Ditengah keramaian yang begitu riuh. Disebuah ruangan kelas yang tidak jauh dari tempat ku duduk. Vampir itu menatap ke salah satu sisi. Ia terus saja memegang buku yang sangat tebal dengan judul yang tidak kelihatan. Ia seperti diasingkan.

Tiba-tiba bahuku ditepuk dengan cukup keras. Otomatis kepalaku langsung berputar kebelakang diikuti detak jantung yang lebih cepat.

Justru yang kulihat pertama kali adalah papan nama. Mataku melebar setelah sukses membacanya.

Jev Nelson.

Dia terkekeh melihat keherananku. Bagaimana mungkin satu malaikat bisa lepas setelah belum lama aku berpaling dari kelasnya.

"Jev? Kok bisa di sini? " tanyaku dengan sangat heran.

"Tampangmu itu kocak banget, "
Ia mengambil posisi duduk di sampingku, dan mataku terus saja mengikuti gerak-geriknya.

"Kenapa di sini? Bukannya kamu belajar ya? " tanyaku lagi sedikit memaksa melepas keheranan.

"Aku kabur, " jawabnya singkat dengan raut muka serius.

"Secepat itu? " ia menaikkan bahunya.

"Menggunakan sayap, " ucapnya. Kata-kata itu sukses membuatku melebarkan mata.

"Canda! " tawanya meledak.

Aku mengerucutkan bibir. Jengkel dengan tingkahnya.

"Aku serius! " gertakku.

"Biasalah, cari angin, " ucapnya memeluk lutut. Aku manggut-manggut.

"Bolos dong? "

"Kali ini gapapa, " ia membuka tali sepatu lalu mengikatnya lagi.

"Memangnya biasanya kenapa? " tanyaku lagi memperhatikannya.

Kenapa sih mataku tidak mau beralih dari wajahnya?

"Yang biasa itu tidak spesial, " ucapnya menoleh kepadaku.

Duduk kami sedikit berjarak karena ketika ia mengambil posisi duduk di sampingku, aku sedikit berinsut untuk menjaga jarak. Membiarkan angin membelah kami berdua.

Tentu saja, karena aku khawatir hawa bau badanku menguap lantas membuat Jev tidak nyaman.

"Lalu? " tanyaku.

Makin ke sini semakin tidak jelas.

"Ya karena nggak ada kamu, "

Aku merasakan hembusan angin melewatiku. Aku benar-benar larut dalam keheningan, berusaha mencerna kalimat Jev.

"Canda Geby! Serius amat, "

Jev kemudian beranjak pergi. Aku tidak bergeming diposisiku. Apa hubungannya bolos dengan spesial? Aku tetap berdiam diri, lalu mengusap dadaku.

Tidak ada detak jantung yang lebih cepat.

Tidak ada kegugupan yang melanda.

Apakah aku akan seperti ini setiap akan bertemu dengannya?

Semoga iya.

Hening sekian lama. Jam pelajaran olahraga telah habis. Tungkaiku refleks berjalan meninggalkan pohon Ketapang kencana yang kokoh berdiri sejak beberapa tahun terakhir.

...

Aku menyandang tasku dan mencoba untuk menyeimbangkannya. Sorak-sorai pulang yang selalu terdengar bertepatan dengan bunyinya bel terakhir di sekolah.

Teman-teman ku mengantri untuk keluar dan menerobos cowok yang hobinya berbaris disepanjang koridor yang sempit dan membiarkan orang-orang yang terlihat seperti jagoan mereka berjalan di tengah sambil tos-tosan.

Seperti orang yang benar-benar akrab berpisah dan berjumpa kembali beberapa tahun ke depan. Padahal tidak sedikit dari mereka yang belum saling kenal

Lain halnya dengan yang dialami cewek. Mereka malah meneriaki kami hingga menggema digendang telinga, meskipun kami sudah menutupnya rapat-rapat.

Dasar cowok!

Aku bukan antrian terakhir yang mendapat giliran menerobos. Masih ada tiga orang cewek di belakangku.

Selangkah demi selangkah.

Aku semakin mendekat ke pintu, hingga akhirnya aku menarik napas dalam-dalam dan menahannya, kemudian berlari sambil menutup telinga sampai aku keluar dari hingar-bingar itu.

Tetapi, sebelum sampai ke ujung, kurenggangkan telingaku. Terasa ada yang mengganjal.

Mereka tidak meneriakiku.

Aku tetap melanjutkan langkah kakiku dengan cepat sampai keujung. Aku menarik napa lega. Aku lalu berbalik dan ternyata Jev di belakang ku, mendahului teman-teman sekelasku.

Pantas saja. Mereka pasti sibuk tos-tosan.

"Mau pulang bareng? " tawarnya menekuk leher. Memang, aku lebih pendek. Aku menggeleng dan menyeka keringat dikening.

"Aku dijemput sama Yeol, " ucapku.

"Yeol yang tinggi itu? "

"Iya, "

Jev merapatkan mulutnya. "Hati-hati, " ucapnya setelah terdiam sejenak.

Kulangkahkan kaki menuju gerbang untuk menunggu Yeol bersama siswa lain yang menunggu jemputan. Sudah hampir sepuluh menit aku berdiri, Yeol tak kunjung datang.

Jev yang diikuti oleh Abdi menyapaku. "Belum dijemput? " tanyanya di atas motor. Aku menggeleng lesu.

"Mau aku temenin? " dan aku masih melanjutkan gelenganku.

"Ayo pulang bareng aja, " ajaknya kepadaku.

"Yeol sebentar lagi datang kok, " ucapku yang sebenarnya ingin sekali menerima tawarannya.

"Oke, aku tinggal ya, "

Jangan!

"Iya. "
.

Sekolah semakin sepi, kenapa Yeol lama sekali? Aku yang sudah bosan menunggu memutuskan untuk duduk di dekat pagar.

Aku menyesal menolak tawaran Jev.

Sekolah semakin sunyi.

Mataku tetap konsisten celingukan, sampai-sampai leherku pegal.

"Yeol kemana sih?! " gerutuku.

Penjaga sekolah ku membersihkan setiap tempat sampah sendirian lalu menyeret gerobak. Ia yang bekerja, aku yang lelah.

Aku menyedot udara ke paru-paru.

Dan dimenit selanjutnya, Yeol datang menjemputku. Aku langsung berdiri dan mulutku berkomat-kamit tidak jelas.

Yeol malah mencibirku. "Jelek banget,"

"Biarin! " gertakku. Aku sudah kesal. Menyianyiakan kesempatan emasku.

"Biasaaa, banyak pelanggan, " ucapnya tanpa kutanya.

Aku mendekati Yeol, hendak naik ke motornya. Yeol mengangkat tangannya berniat mencubit pipiku, kutepis itu dengan sigap.

Aku buru-buru naik ke motornya. Ia semakin menggodaku dengan memutar badannya. Dengan kasar kucubit pinggangnya. "Aa!" pekik Yeol.

"Buruan jalan! " aku menepuk punggungnya. Yeol memutar kunci lalu menyalakan motor.

Yeol berkendara sangat pelan. Aku merasa jenuh setiap kali berboncengan dengannya. Aku iri dengan mobil ataupun motor yang sebelumnya di belakang kami, kemudian mendahului kami lalu menghilang.

"Kak, sini aku aja yang bawa motornya, " ucapku mempromosikan diri. Punggungku pegal, seharusnya sudah sampai rumah. Tanpa basa-basi Yeol menghentikan motornya karena ia berkendara memang agak ke pinggir.

Kami bertukar posisi.

Akan kuperlihatkan ketangguhanku. Aku menggas motor. Jauh lebih cepat dari yang Yeol bawa. Ia terjengkang ke belakang, untungnya ia berpegangan dengan tasku. Kalo nggak?

Ia menjerit di sepanjang perjalanan. Yeol meremas pinggang seragamku.

Sungguh, hatiku sangat puas.

Karena aku merasa kasihan, kuperlambat laju motor, membuat Yeol lebih rileks, tetap meremas seragamku. Ia menarik rambutku, membuatku mendongak.

Tiba-tiba telingaku diselubungi udara hangat. Aku sudah mengira, Yeol pasti akan mengerjaiku. Awas saja, akan ku gas motor ini sekencang mungkin. Aku mulai menerka-nerka, apa yang sedang ia lakukan di belakang.

"Kamu tau sekarang tanggal berapa? "

Tanya Yeol lirih tepat didaun telingaku. Suara seraknya membuat telingaku geli.

"Gatau! " ucapku membesarkan volume suara.

Yeol malah menjitak kepalaku.

"Sekarang hari kematian abeoji, "

"Genap empat tahun, " sambungnya.

Sementara aku terdiam, mencoba fokus, mengingat kembali memori lama bersama appa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Siswa Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali